Update : 01 Juni 2010
Mewujudkan muslim yang muttaqin bukanlah sesuatu hal mudah dilaksanakan, karena banyak indikator yang harus dipupuk dan dijaga yang turut serta mempengaruhi pluktuasinya keimanan dan ketaqwaan seseorang. Indikator-indikator tersebut, ada yang berhubungan dengan dimensi ritual, ada pula yang berhubungan dengan dimensi sosial. Karena itu pula ada paramater kesalehan ritual dan ada kesalehan sosial yang satu sama lainnya harus seimbang dalam kehidupan seseorang. Jika hanya satu parameter yang dilakukan dalam kehidupan ini,
bisa jadi orang tersebut tidak memiliki keseimbangan hidup dalam menjalankan kehidupan ini.Kaitannya dengan hal tersebut, Al Qur’an mengecam keras orang-orang yang hanya peduli dengan tugas-tugas ritual, tetapi mengabaikan dimensi-dimensi sosial. Sebaliknya pula orang yang peduli dengan masalah sosial, tetapi apatis terhadap persoalan-persoalan ritual keagamaan dianggap beramal tendensius. Dua-duanya ada tuntutan proporsional dan dilakukan dengan kualitas terbaik dan amal terbaik.
Terbaik dalam konsep Islam tidak hanya produk atau hasil kerjaan yang dilihat, tetapi juga harus dilihat dalam “proses” dari awal hingga akhir sangat menentukan, karena itu ada pernyataan dalam sebuah hadits Nabi yang menjelaskan bahwa "Banyak amalan-amalan yang secara kasat mata seperti amal keakhiratan, tetapi justru menjadi amal keduniawian disebabkan niatnya tidak terpuji" Misalnya membantu, menyumbang seolah amal akhirat, tetapi niatnya cari popularitas, maka jadilah amal popularitas. “Sebaliknya banyak pula amal-amal yang kelihatannya keduniawian, tetapi justru menjadi amal keakhiratan karena motivnya yang terpuji dan niatnya baik”.
Seperti mengatur lalu lintas, memperindah taman (tempat tinggal) interior maupun eksterior, atau bekerja mencari nafkah, kerja bakti dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Islam melihat kebaikan dari dua dimensi yakni substansi dan proses.
Membangun masjid itu baik, membangun sarana umum itu baik, tetapi jika proses penggalangan dananya tidak memperhatikan dan memperdulikan rambu-rambu, maka hasilnya menjadi tidak bernilai dimata Tuhan. Apalagi niatnya hanya ingin bermegah-megahan dan mencari popularitas. Yang membimbing proses adalah iman dan ilmu, sedang yang menentukan jelek-bagusnya substansi adalah norma syari’at dan norma sosial.
Kemampuan syetan menggoda manusia pada proses mencapai tujuan sangat kuat, misalnya tidak mungkin orang yang biasa shalat - lalu dalam sekejap ia meninggalkan begitu saja shalatnya, tetapi syetan berusaha turut campur dalam pencapaian kualitas shalat, sehingga orang yang sedang shalat menjadi tidak khusyu', kabur pikirannya ingat ini dan ingat itu yang dapat menyebabkan tidak sadar apa sebenarnya yang dibaca. Karena khusyu’ itu adalah apa yang diucapkan oleh mulut diikuti oleh hati bahkan yang lebih bagus lagi mengerti dan memahami apa yang diucapkan oleh mulut. Ketika orang berzakat kepada orang yang berhak menerimanya, jika muncul dibenaknya itu ada keinginan untuk disanjung dan dipuji orang bahwa ‘dirinya adalah orang dermawan’ suka membantu orang yang susah dan seterusnya, maka produk ini sudah tercampuri dalam prosesnya oleh syetan.
Orang yang berkeyakinan bahwa kejujuran atau sifat jujur itu baik, tidak mungkin berubah pikiran dengan mengatakan bahwa kejujuran atau sifat jujur itu tidak baik, tetapi dalam perjalanan prosesnya syetan turut campur agar orang berpikir untung ruginya jika berbuat jujur. Inilah bujuk rayu syetan yang harus diwaspadai.
Untuk itu, Al Qur’an membagi terapi agar orang-orang baik, enggan melakukan keburukan. Firman Allah surat Huud ayat 114, yang artinya: “Bahwa kebaikan-kebaikan berlapis yang dilakukan seseorang akan dapat membuang jauh-jauh perbuatan jelek dan kemauan melakukannya.” Jadi kalau kita dan generasi kita ingin terhindar dari hal-hal buruk, maka mulailah biasakan diri dengan melakukan hal yang baik-baik, karena kebaikan dalam Islam datang dari dua arah, yaitu: melakukan yang diperintahkan dan menghindari yang dilarang. Menghindari yang dilarang sebagai kebaikan pasif, tidak bisa tiba-tiba melainkan harus berbasis dulu dengan kebaikan. Terapi yang lain adalah memahami sedalam-dalamnya hukum aksiomatik bahwa orang yang menanam kebaikan akan memetik kebaikan dan orang yang menanam keburukan akan memetik keburukan. Friman Allah dalam surat Al Isra ayat 7, yang artinya : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri"
Namun demikian, perlu disadari bahwa dibalik hukum di atas, ada ujian-ujian lian sebagai wahana peningkatan derajat seseorang ke arah yang lebih tinggi dan ada pula yang disebut istidraj yakni ujian Tuhan dengan kebaikan pada orang-orang durhaka. Karena itu tidak heran, banyak orang-orang dholim dan durhaka tetapi tetap segar bugar dan bahkan dapat ni’mat dan rizki lebih banyak dari pada orang-orang baik. Orang-orang yang beriman melihat kondisi tersebut tidak boleh iri dan dengki, karena sifat iri dan dengki berarti suatu kegagalan iman.
Orang beriman harus istiqamah, istiqamah dalam melakukan perbuatan yang baik dan istiqamah untuk tidak melakukan hal-hal perbuatan buruk atau perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama. Pertanggungjawaban atas keimanan seseorang kepada Allah, lakukanlah dengan seadil-adilnya sesuai porsi dan posisi masing-masing. Ada porsi tingkat pimpinan, ada porsi anak bawahan, ada porsi sistem dan ada porsi kebijakan dan seterusnya. Al Qur’an telah menantang orang-orang yang beriman yang imannya setengah-setangah dengan firmanNya dalam surat Al Baqarah ayat 85, yang artinya: “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan inkar terhadap sebahagian yang lain" Jadi istiqomah adalah sutau tuntutan untuk diwujudkan dalam kehidupan melalui pendidikan dan proses yang panjang. Komitmen iman harus diikuti dengan sikap istiqamah (konsisten) dan kontinuitas agar ketegaran dan ketentraman dapat diraih baik dalam kehidupan dunia maupun dalam kehidupan akhirat. Allah telah menjanjikan dalam Al Qur'an surat Fushilat ayat 30, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" Istiqomah (konsisten) terkait dengan sikap beragama yang lain seperti, kuatnya keyakinan, kesabaran, ketabahan menghadapi segala ujian baik senang maupun susah dan tawakkal kepada Allah SWT.
Cinta, dibanyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang. Ia seperti udara yang selalu mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir kedataran yang lebih rendah.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik.
Dan islam tidak saja mengagungkan cinta, tetapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta. Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasulnya.
Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihnya. Maka taati dan takwalah kepadanya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, Sunnah dan Al-Quran. Barang siapa yang mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku”. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua”. Desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hamper usai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkan masuk, “maafkanlah, Ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemui ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “tidak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. “ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut Ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu.” Kata Jibril.
Tapi ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” kata Rasulullah. “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “ kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya.” Kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka, “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega melihat rasul Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “ Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya, “Uushiikum bisshalati, wamaamalakataimaanukum,” (Peliharalah Shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu).
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan kewajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinga ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatii?” dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Ada banyak pasangan suami istri yang harus melepas impian “baiti jannati” rumahku surgaku. Buktinya, angka perceraian semakin tinggi, dengan berbagai alasan yang kadang hanya masalah sepela.
Pernikahan adalah peristiwa besar dalam kehidupan seseorang. Karena pernikahan membawa perubahan status, peranan, bahkan perubahan hak dan kewajiban. Bila pasangan suami istri tidak memahami arti penting pernikahan, maka banyak biduk rumah tangga yang karam dihempas gelombang, meski belum lama berlayar.
Karena itu, ada banyak pasangan suami istri yang harus melepas impian “BAITI JANNATI” rumahku surgaku. Buktinya, angka angka perceraian semakin tinggi, dengan berbagai alasan yang kadang hanya karena masalah sepele. Kenapa demikian? Bila kita amati seksama, ada beberapa faktor penyebab kegagalan membina kebahagiaan dan keharmonisan hubungan suami istri, terutama mewujudkan suasana “SAMARA” (SAkinah, MAwaddah, RAhmah) dalam rumah tangga, yaitu:
Pertama, kurangnya perhatian terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan fase pra nikah.
Kedua, kurangnya pemahaman tentang hak dan kewajiban diantara pasangan suami istri itu sendiri.
Ketiga, karena ketidakmampuan untuk bersikap realistis dalam masalah nafkah (lahir maupun batin), sifat masing-masing, pemenuhan hak dan kewajiban, serta masalah lainnya.
Keempat, kurang memahami masalah psikis/kejiwaan masing-masing pihak.
Kelima, pengabaian terhadap masalah anak, yang seharusnya mendapat perhatian serius.
Keenam, ketidakmampuan bersikap proposional dalam menghadapi problem rumah tangga, yang seringkali muncul setiap waktu.
Selain itu, beberapa faktor lain yang dapat menghambat terciptanya suasana “samara” dalam rumah tangga seperti masalah ekonomi, komunikasi, campur tangan pihak lain dalam urusan internal, kurangnya bantuan yang cukup dalam mengurus rumah tangga dan pendidikan anak, faktor penyakit aib salah satu pihak yang lainnya.
Bahtera rumah tangga adalah sarana penentram jiwa sekaligus pembawa misi mawaddah warohmah. Dalam upaya mewujudkan rumah tangga yang “samara” itu, bukanlah melalui proses “simsalabim abrakadabra”, tapi harus melalui proses kerja keras individu-individu pendukungnya. Karena itu pemahaman yang benar tentang konsep rumah tangga “samara” berikut kriteria pasangan suami istri teladan mutlak diperlukan.
Bahtera rumah tangga adalah suatu struktur dalam masyarakat yang bersifat khusus, satu sama lain saling mengikat, bahkan rumah tangga adalah basis terbentuknya tatanan kehidupan masyarakat dan Negara.
Seorang sosialog barat mengakui ilustrasi diatas, bahwa “rumah tangga adalah markas atau pusat dimana denyut-denyut pergaulan hidup bergetar. Rumah tangga adalah susunan yang hidup dan dapat mengekalkan keturunan. Rumah tangga adalah alam pergaulan manusia yang diperkecil. Bukankah dalam rumah tangga itu lahir dan tumbuh apa yang disebut aturan hidup (agama), kekuasaan, pendidikan, hukum, dan perusahaan? Keluarga adalah kesatuan yang utuh, teratur, dan sempurna.”
Struktur rumah tangga yang terbentuk melalui hubungan pernikahan mengandung tanggung jawab sekaligus malahirkan rasa saling memiliki dan berharap, “mutual expextation”. Perikatan hukum yang diikuti perikatan batin itu akan menimbulkan saling asah, asih, dan asuh, yang tercermin dalam pelaksanaan hak dan kewajiban. Demikian pula, sebuah rumah tangga samara diharapkan melaksanakan ajaran agama, seksual dan reproduksi, ekonomi, pendidikan, perlindungan dan rekreasi. Sebuah rumah tangga akan dapat menjalankan fungsi tersebut dengan baik apabila proses organisasi efektif.
Selain itu rumah tangga samara juga berfungsi sebagai sebagai sarana pencegah dekadensi moral. Sebab, melemahnya institusi keluarga, turut menjadi penyebab kebobrokan moral manusia. Dalam rumah tangga samara akan ditemui suasana yang sehat bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Karena anak-anak telah diarahkan sejak dini untuk memiliki aqidah, visi hidup, pola fikir, dan akhlak yang baik. Sehingga mereka tumbuh dan berkembang dalam suasana kondusif menuju pribadi dewasa yang memiliki aqidah sehat, ibadah benar, akhlak sempurna, fisik yang kuat, mandiri, pandai mengatur dan mengurus urusannya, bertanggung jawab, pandai memenej waktu dan optimal dalam memanfaatkan potensinya untuk meraih materi.
Bahkan, rumah tangga samara akan menjadikan jihad, syahid, dan surga sebagai tujuan utama kehidupan berumah tangga. Sehingga mampu membebaskan diri dan keluarga dari api neraka dengan masuk surga dijadikan sebagai ukuran kesuksesan hakiki. Selain itu, rumah tangga samara jauh dari kebisingan akibat perselisihan dan pertengkaran. Juga menjaga kebersihan dan kesucian adalah hal yang selalu dijaga dalam sebuah rumah tangga samara.
Dalam upaya mewujudkan rumah tangga samara, maka kita dapat bercermin pada kehidupan rumah tangga yang dibangun, dibentuk dan dibina oleh Rasulullah SAW yang teduh/tenang dan lapang dalam segala aspeknya. Baik secara moral maupun material.
Jangan buru-buru menyalahkan keadaan, apalagi diri sendiri. Ini hanya masalah cocok tidak cocok. Ada orang-orang yang memang terlahir untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), ada juga yang sebenarnya merasa lebih nikmat dan bahagia jika tidak berurusan dengan orang lain.
Ketika pertama kali kita bekerja akan lebih fokus pada pekerjaan yang ditugaskan oleh atasan agar cepat dikerjakan tanpa mempertimbangkan apapun. Semua perintah dikerjakan dengan professional dan dedikasi tinggi sebagai bentuk pengabdian. Namun apa yang terjadi, bila kita yang telah lama kerja dan mulai banyak mitra kerja yang berbagai latar belakang, maka semakin banyak pula informasi.
Salah satu informasi yang kita dapatkan adalah ingin menjadi PNS. Hal ini tidak lepas dari pertimbangan bahwa kehidupan dimasa mendatang akan lebih terjamin. Tapi perlu diingat bahwa pernah ada suatu ketika seorang pegawai swasta ditawarkan untuk menduduki jabatan tertentu setelah menjadi PNS. Tak lebih 1 tahun dai bosan dan kemudian menjadi manusia bebas. Dia lebih menyukai manusia bisnis, malah dalam waktu dekat dia akan bermukim di Beijing sebagai utusan perusahaan yang sebelumnya dia geluti.
Seseorang bisa mengembangkan kariernya melalui dua jalur professional dan struktural. Keduanya punya cara dan keuntungan yang berbeda. Orang yang berkarier melalui jalur professional boleh disebut sebagai manusia merdeka, karena :
1. Tanggung jawabnya hanya pada pekerjaan tidak pernah puas dengan kemampuan teknisnya dan selalu berusaha. Bagus-bagus saja kalau loyal pada perusahaan, tapi jika kita berkembang dan makin ahli pada bidang ini, maka bisa jadi ada perusahaan lain yang mau membayar kita lebih mahal.
2. Menguasai bidangnya dengan baik dan mencintainya melebihi apapun. Kita cenderung concern pada isu-isu yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan dan pengetahuan. Ikut organisasi, seminar, atau mungkin mailing list yang bicara soal bidang yang kita kuasai dan makin memperkaya kita. Semakin banyak kita berhubungan dengan orang lain pada bidang yang sama, semakin kita memahami bidang kerja. Dengan demikina kita akan lebih kreatif, inovatif, dan potensi diri akan semakain berkembang tanpa menunggu perintah atau diperintah oleh siapapun.
3. Gaji bisa lebih besar dari atasan. Pada perusahaan yang sudah matang, dan menilai karyawannya dengan pantas, maka seorang profesioanal yang baik dan progresif akan dihargai lebih mahal dibanding seorang pejabat struktural dengan kemampuan meleading yang standar. Satu-satunya kelebihan seorang pejabat struktural dibidang pekerja professional adalah tunjangan jabatan dan fasilitas lain. Perlu diinget, semua itu tunjangan jabatan dan segala fasilitas itu otomatis lenyap begitu jabatannya lepas.
4. Cenderung enggan berurusan dengan persoalan orang lain. Apalagi menyelesaikannya. Menurut orang tipe professional, satu-satunya urusan yang pantas di urus adalah masalah pekerjaan. Lainnya tidak jadi prioritas segala-galanya karena pengabdian dan pengembangan potensi diri secara maksimal ditempat kerja nilainya tak ternilai. Kepuasan batin itulah yang di dapat.
5. Menolak politik kantor, masalah ini cukup mengganggu tipe profesional. Baginya politik kantor hanya untuk orang-orang yang gila jabatan. Bukan gila kerja. Tipe ini hanya butuh pengakuan dari atasan dan rekan kerja atas hasil karyanya. Bukan kursi empuk bernama “kedudukan”.
6. Ada orang-orang tipe ini yang cenderung tidak terlalu loyal pada perusahaan. Dia mengabdi pada profesinya, bukan kantor tempatnya bekerja, juga bukan pada uang. Menurutnya uang bisa dicari. Yang penting adalah dia senang mengerjakan pekerjaannya. Dimanapun itu.
7. Seorang pemimpin yang baik justru akan makin berkembang ketika bisa mengembangkan setiap anggota tim. Menurutnya tim yang baik jika seluruh anggotanya saling dukung dan bisa mengembangkan kemampuannya. Dia tidak memikirkan perkembangan dirinya saja, tapi juga tim beserta isinya.
8. Tipe stuktural akan punya kecenderungan mengatur timnya agar sesuai dengan pola yang disepakati. Dia akan dengan cepat berkoordianasi dengan anggota timnya untuk mengatasi persoalan dan menyelesaikan pekerjaan secara bersama.
9. Setelah membagi tugas pemimpin akan mengecek apa saja yang sudah dikerjakan oleh anggota timnya. Inilah yang disebut dengan proses kontrol. Dia tidak akan mengontrol anak buahnya pada saat terkhir, tetapi secara bertahap. Sebab dia tahu persis, proses kontrol tidak bisa di lakukan secara mendadak, itu sama saja bikin persoalan baru.
10. Sorang leader biasanya kana menjadi tempat konsultasi. Dialah tempat bertanya bila anak buahnya menhdapi persoalan. Baik persoalan yang berhubungan dengan pekerjaan maupun pribadi. Anggota tim akan merasa nyaman bicara padanya.
11. Tipe ini tidak hanya memberikan order atau perintah, tapi juga mampu memberikan bimbingan atau coaching. Cara seperti ini dia yakin akan membuat akan buahnya berkembang. Seorang leader yang baik akan membuka kesempatan seluas-luasnya pada anak buahnya untuk mengembangkan diri. Pun menyediakan waktu yang cukup untuk memberikan bimbingan.
12. Leader tidak akan mau memang sendirian. Dia ingin suatu waktu kelak akan ada yang menggantikannya. Sehingga dia akan dengan senang hati untuk memberikan kepercayaan pada anak buahnya yang potensial. Kesempatan itu akan diberikannya tidak hanya pada orang-orang yang dianggap suatu ketika kelak bisa jadi pemimpin. Tapi juga orang-orang yang punya kemampuan untuk professional.
13. Seorang pemimpin rela menjadi “BUMPER” membela anggota timnya. Dia akan menegur anak buahnya secar pribadi, tidak di depan orang lain apalagi client. Sebaliknya dia akan memuji anak buah di depan sebanyak mungkin orang.
Dari penjelasan yang diatas, jelaslah perbedaan antara sebagai pekerja swasta dengan PNS. Jadi, janganlah kita menganggap sebagai PNS itu adalah satu-satunya pilihan dan tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Semua kembali pada diri kita masing-masing, mau kita jadikan apakah diri kita ini..???
Sebagai umat islam, kita mengimani bahwa kiamat itu pasti akan terjadi. Kehidupan manusia di dunia pada suatu waktu akan berakhir karena datangnya hari kiamat. Kita memiliki keyakinan yang demikian itu sebab Allah SWT menjelaskan kepada kita di dalam Al-Quran. Kiamat dijelaskan pula Oleh Rosulullah SAW dalam sejumlah hadist. Tanpa bantuan wahyu sulit bagi kita untuk mendapatkan gambaran tentang kiamat.
Betapa besar peranan harta dalam kehidupan manusia. Rasanya tidak dapat diragukan lagi. Dengan harta orang dapat memperoleh apa yang dinginkannya. Semakin banyak harta seseorang, semakin mudah ia memenuhi kehidupan hidupnya. Karena itu, banyak orang yang berusaha keras mencari kekayaan tanpa mengenal lelah. Hanya sayangnya, banyak orang tidak menyadari, bahwa harta kekayaan itu adalah titipan Allah padanya. Dan sebagian kecil adalah kepunyaan atau hak orang-orang miskin.
Sebagai contoh kita ungkapkan disini. Seorang perempuan yang telah berusia pada usia senja, sering mengeluh karena kesehatannya terganggu. Selera makannya hilang, dan tidurnya tidak pernah nyenyak. Dia telah berobat pada beberapa dokter spesialis. Namun penyakitnya tidak kunjung sembuh. Bahkan tiap hari ia merasa penyakitnya bertambah berat.
Kepada teman-temannya ia menceritakan penyakitnya itu. Barangkali dengan bercerita ia merasa sedikit terobati. Diantara orang yang diajaknya berbicara ada yang berkata : barangkali anda tidak menunaikan zakat”. Tentu saja secara serta merta dibantahnya, bahkan ia mengatakan bahwa dirinya paling banyak mengeluarkan zakat, hampir setiap hari ia berzakat, katanya.
Kendati ucapan temannya itu dibantahnya, namun dalam hati kecilnya timbul juga kegelisahan, untuk menghilangkan kegelisahannya itu, ia datang kepada penulis.
“benarkah penyakit saya ini disebabkan oleh karena saya tidak membayar zakat?” tanyanya.
“mengapa anda bertanya seperti itu? Siapa yang mengatakan itu kepada anda?”
“belakangan ini saya sering sakit. Macam-macam saja penyakit yang datang. Obat yang diberikan oleh dokter spesialis kepada saya, rasanya tidak ada yang menolong. Saya ceritakan hal diri saya kepada teman, justru saya dikatakannya tidak menunaikan zakat. Padahal saya selalu berzakat. Setiap ada orang minta sumbangan selalu saya beri.”
“bagaimana cara anda menentukan berapa banyak zakat yang wajib anda keluarkan?”
“yah, itu tidak saya hitung. Yang penting hampir setiap hari saya mengeluarkan uang sepuluh ribu, kadang-kadang lebih”.
“ yang anda berikan kepada orang miskin atau peminta sumbangan dengan cara seperti itu, bukanlah zakat, akan tetapi shodaqah atau sumbangan sukarela. Anda berpahala dengan shodaqah itu. Akan tetapi kewajiban anda untuk mengeluarkan zakat dengan cara demikian belum terlaksana.”
Wanita itu terdiam, kemudian menangis. Ia baru sadar, ia menyesali dirinya. Mengapa selama ini ia tidak menanyakan kepada orang yang mengerti tentang masalah zakat, cara menghitung harta yang wajib dikeluarkan zakatnya dan berapa jumlah yang harus dibayarkan dan kepada siapa.
Itulah salah satu contoh, betapa seorang muslim wajib mengeluarkan zakat, bagi yang mempunyai harat jauh melampaui nisab yang ditentukan. Banyak orang menyangka, dirinya telah berzakat, padahal belum, karena belum mengerti masalah zakat.
Disisi lain, ada pula orang yang tidak mau menunaikan zakat walaupun penghasialannya banyak. Alasannya karena keperluannya belum mencukupi. Kalau dilihat dari penampilan dirinya dan tempat tinggalnya, ukuran hidupnya sehari-hari sudah jauh lebih tinggi dari orang biasa. Orang seperti ini mungkin tidak mengerti masalah zakat dan tidak tahu apa hukumnya, serta tidak mengerti hikmah dan manfaat yang terkandung di dalam zakat itu bagi dirinya.
Berbagai sifat dan keadaan manusia, yang pada umumnya tergantung pada pengalaman hidup yang telah dan sedang di laluinya, ada orang yang benar-benar cinta kepada harta, karena harta itu memberi keputusan terhadap diri dan keluarganya. Dilain pihak, ada orang yang takut akan termakan olehnya harta yang seharusnya dizakatkan. Ia sangat berhati-hati dengan setiap penghasilan yang diterimanya. Sebelum dibelanjakannya untuk keperluan pribadi, terlebih dahulu dikeluarkannya zakatnya.
Pada dasarnya harta memang menunjang kehidupan manusia. Tetapi sebaliknya, harta dapat berubah menjadi penyebab perselisihan dan permusuhan. Karena harta, orang berkelahi. Karena harta, hubungan persudaraan menjadi renggang, bahkan karena harta, hubungan keluarga menjadi putus. Dan tidak jarang, perselisihan antara anak dan orang tua terjadi disebabkan harta. Tetapi sebetulnya bukan harta yang menjadi penyebab. Sebabnya mungkin cara mendapatkan harta itu yang tidak benar, atau sebahagian kecil dari harta yang sesungguhnya milik orang lain, tidak dikeluarkan.
Di dalam al-quran banyak terdapat ayat yang mengatakan bahwa manusia suka harta, misalnya dalam surat al-fajr ayat 15-20 yang artinya sebagai berikut:
“adapun manusia, apabila tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-nya dan diberinya kesenangan, maka ia berkata:”Tuhanku telah memuliakanku.” Akan tetapi apabila tuhan mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka ia berkata:”Tuhanku menghinaku.” Sebetulnya bukan demikian. Sebabnya karena kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak Saling mengajak dalam memberi makan orang miskin. Dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dengan yang batil). Dan kamu mencintai harta secara berlebihan.”
Jika kita perhatikan kandungan ayat diatas dengan cermat, dapat diambil beberapa hal yang berkaitan dengan sifat manusia menghadapi karunia Allah dan pengurangan rezeki, Allah SWT menyatakan bahwa harta kekayaan, kesenangan dan kesusahan hati tidak lain hanyalah cobaan, atau ujian Allah semata. Dalam ayat tersebut digambarkan betapa dangkalnya cara manusia berfikir, dan betapa cepatnya perubahan sikapnya terhadap Allah.
Allah mengingatkan manusia bahwa keterbatasan rezeki yang mereka terima, bukanlah karena allah tidak sayang atau menghina mereka. Hal itu sebagai akibat dari kelakuan mereka sendiri yang sangat mencintai harta, sehingga tidak santun kepada anak yatim, tidak tergugah hatinya untuk memberi makan orang miskin, dan tidak cermat dalam membagi harta warisan, sehingga terambil-lah yang bukan haknya.
Allah memperingatkan manusia, bahwa harta itu hanyalah perhiasan hidup didunia saja. Bahkan dikatakan, bahwa harta itu adalah cobaan. Dikatakan pula, bahwa kehidupan duniawi tak lain dari pada permainan, senda gurau dan saling membanggakan. Hal tersebut diungkapkan Allah dalam ayat-ayat berikut, yang artinya : ‘Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.’(QS. Alkahfi Ayat 46). “: sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS. At taghaabun ayat 15)
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan bermegah-megahan antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al hadid ayat 20)
Demikianlah peringatan Allah. Ayat tersebut menyadarkan kita, bahwa ada diantara manusia yang mempunyai sifat demikian, sehingga harta menjadi kebanggaan hidup sampai tuanya.
Kencan dengan pasangan bukan monopoli mereka yang masih pacaran. Pasangan suami istri pun dapat melakukannya, supaya hubungan yang terjalin tetap hangat.
Menikah, berkeluarga, dan mempunyai keturunan merupakan dambaan semua orang. Saat pertama kali memutuskan menikah, yang terpikirkan adalah lebih banyak waktu untuk berdua. Seiring berlalunya waktu, ternyata hal tersebut tak semudah yang dibayangkan. Terlebih bagi mereka yang sama-sama bekerja. Belum lagi akhir pekan yang biasanya khusus buat si buah hati. Akhirnya, waktu untuk berdua hanya tinggal rencana yang tak pernah menjadi nyata.
Meski demikian, janganlah putus asa. Sebab, se-sibuk apapun, asal pandai mengatur waktu, berdua saja dengan pasangan bukanlah hal yang mustahil.
Kita memang membutuhkan waktu untuk berdua dengan pasangan, tanpa melibatkan anak. Hal itu penting sebagai upaya menjaga keharmonisan rumah tangga,”kata psikolog A. Kassandra putranto, M.Psi.
Menjaga keharmonisan keluarga merupakan hal yang komplek dan tidak dapat berdiri sendiri. Dalam hal ini, kualitas hubungan ditentukan oleh banyak hal, diantaranya: kepercayaan, toleransi, komunikasi, serta sikap dan prilaku.
Waktu bersama dengan pasangan adalah ritual yang akan menciptakan komunikasi dua arah guna menyamakan persepsi dan menentu sikap dan perilaku.
Ada tiga manfaat yang dapat dipetik. Pertama, menjaga keharmonisan. Kedua, menjalin komunikasi. Ketiga, menghangatkan kembali hubungan yang telah terjalin, “ Jelas Kassandra.
Makan siang bersama untuk mendapatkan kembali waktu bersama seperti halnya semasa pacaran, ada banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satunya dengan makan siang bersama pasangan sekali seminggu. Siapkan waktu sekali dalam sepekan untuk makan siang bersama pasangan. Misalnya pada hari jum’at. Beruntung bagi anda yang memiliki posisi menengah ke atas di perusahaan atau bagi mereka yang berprofesi sebagai orang lapangan karena mudah menyiasati hal itu.
Soal tempat tak perlu di restoran mahal, bisa di warung tenda pinggir jalan atau pusat jajanan yang tak jauh dari tempat kerja. Begitu juga soal menu makanan, tak perlu ambil pusing, sesuaikan saja dengan selera masing-masing. Jangan sampai masalah tempat dan menu menjadi penghalang untuk makan siang bersama.
Hal yang paling penting adalah kenyamanan untuk melakukan komunikasi dan interaksi dengan pasangan dalam waktu yang singkat tapi penuh makna.
Jika tak mungkin sekali dalam sepekan, bisa sebulan sekali. Asal dilakukan secara berkala dan terjadwal. Intinya atur sedemikian rupa sehingga ritual itu tetap terlaksana, berapapun usia pernikahan, “ tutur Kassandra.
Jika makan bersama tidak mungkin, manfaatkan momen tertentu sebagai waktu khusus untuk berdua dengan pasangan. Misalnya saat perayaan ulang tahun perkawinan, ulang tahun pertunangan, atau saat pertama kali bertemu pasangan. Akan lebih romantik jika dilakukan bukan hanya pada waktu yang sama melainkan pada tempat yang sama pula. Setidaknya dengan membangkitkan kenangan manis masa lalu, akan menambah rasa cinta dan kasih sayang.
Kassandra menekankan, “jangan hanya ritualnya saja, hal lain harus pula dilakukan.” Misalnya mencari solusi masalah yang sedang dihadapi, entah soal anak, karir, dan lainnya. Sekedar curhat tentang kejadian yang dialami juga perlu. Dengan begitu pada saat yang sama banyak hal yang dapat dilakukan. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Ritual tetap berjalan, komunikasi terbangun, dan solusi diperoleh. Jika hal itu dilakukan keharmonisan keluarga tetap terjaga. Pada akhirnya, rasa cinta dan kasih sayang keduanya tetap membara.
Andai saja semua pasangan bisa melakukan hal tersebut dengan baik, meluangkan waktu sedikit ditengah kesibukannya, bukan tidak mungkin perselisihan dalam rumah tangga atau perceraian dapat dihindari. Pada prinsipnya semua hal itu dapat dilakukan oleh siapapun yang menginginkan hubungan suami istri tetap terjalin harmonis.
Informasi Penting
Pojok Artikel dan Ebook
2. Menghangatkan Hubungan Suami Istri
3. Manusia dan Harta
4. Jadi PNS Bukan Satu-satunya Pilihan
5. Mewujudkan Rumah Tangga SAMARA
6. Tentang Cinta
7. Nasihat Untuk Keluarga Muslim
8. Tua Itu Pasti, Dewasa itu Pilihan
9. Menikahlah maka Hatimu akan Damai
10. Bukan Sekedar Pacaran